ASPEK PEMIKIRAN ABU HASAN AL-ASY'ARI DAN AL-ASY'ARIYYAH ( Part-2 )

Di posting oleh Kolomonggo pada 03:42 AM, 21-Oct-11 • Di: Sektarian

Aspek Pemikiran Al-Asy'ari dan Al-Asy'ariyyah ( part-2 ) Dan akhirnya perbedaan pandangan yang ada membuat Al-Asyari keluar dari kelompok ini dan akhirnya mendirikan kelompok sendiri dengan nama Asyariyah. Disebutkan, ketika itu, ia berusia sekitar 40 tahun dan banyak mendapat kritikan dari tokoh-tokoh dan ulama Muktazilah. Abu Hasan al-Asy’ari membuat pembaharuan dalam aliran Ahli Sunnah dengan mengemukakan hujah-hujah logika akal serta teks-teks al-Quran dan hadis yang ada. Hujah-hujah yang dikumpulkan cukup kuat dan sangat mematahkan hujah Muktazilah yang pesat berkembang pada masa itu. Beliau berjaya mengumpulkan murid dan pengikut Ahli Sunnah wal Jamaah dan kemudian, lahir golongan dikenali sebagai Asya’irah yaitu golongan pengikut faham Abu Hasan al Asy’ari. B. Aspek Pemikiran Al Asy’ariyah Bila kita mendengar kata Al Asy’ariyah langsung akal kita akan murujuk pada sebuah aliran atau sekte yang menjalankan amal ibadahnya dalam bidang teologi mengikuti sebuah madzhab atau faham yang disinergikan oleh Al Imam Abu Al Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari setelah beliau keluar dari madzhab mu’tazilah yang dia ikuti selama lebih dari 40 tahun. Walaupun dalam hal ini terkadang mayoritas kaum Asy’ariyah sendiri kurang memahami dengan alur pemikiran Al Asy’ari dalam bidang Syari’ah (fiqih) dan Tasawwuf dikarenakan kurang menonjolnya beliau dalam kedua aspek Agama tersebut di kalangan pengikutnya pada saat ini karena dalam aspek Fiqh beliau bermadzhab pada Al-Syafi’i yang notabenenya adalah Imam Mujtahid. Jadi untuk bidang ini (Fiqih) para pengikut madzhab Asy’ariyah lebih mengenal Al-Syafi’I sebagai panutannya. Ada tiga pemikir Islam, yang sementara ini diklaim sebagai penganut aliran teologi Asy’ariyah, mereka ialah : Al-Baqillani, Al- Juwaini dan Al-Ghazali, meskipun mereka sendiri tidak pernah menyatakan diri berafiliasi kepada aliran telogi tersebut, baik secara eksplisit maupun implisit. Para pemerhati pemikiran teologi Islam memberikan predikat kepada mereka sebagai penganut aliran teologi Asy’ariyah diakibatkan oleh dasar-dasar epistemologi (pemikiran) mereka dan substansi pemikiran mereka yang condong ke arah pemikiran Asy’ariyah. Al-Baqillani (403 H. /1013 M.) Al-Baqillani, yang nama lengkapnya Abu Bakr Muhammad bin al- Tayyib bin Muhammad bin Ja’far bin al-Qasim, dalam kebanyakan sumber dikenal dengan Ibn Baqillani tapi penggunaan yang populer al-Baqillani, dilahirkan di kota Basrah, tanggalnya tidak diketahui, wafat di Baghdad pada tanggal 21 Zul Qa’dah 403/6 Juni 1013. Ia dikenal sebagai pendukung Asy’ari dalam teologi dan al-Maliki dalam fiqh. Ia juga dikenal sebagai aktor utama dalam sistematisasi dan populerisasi aliran Asy’ariyah. Dalam al-Tamhid-nya ( yang dimaksud adalah kitab Al-Tamhid fi al-Radd ‘ala al-Mulhidah al-Mu’aththilah wa al-Rafidhat wa al-Khawarij wa al-Mu’tazilah, karya pertama beliau yang menampilkan polemik teologi dengan lengkap ), al-Baqillani, yang tidak henti‑hentinya disibukkan dengan ungkapan‑ungkapan apologisnya, mencampur adukkan penyajian tentang kepercayaan dengan diskusi‑diskusi panjang melawan sekte‑sekte non muslim dan aliran‑aliran Muslim sendiri. Berikut ini skema pendapat al-Baqillahi dalam kitab tersebut (berdasarkan pembahasan ilmu kalam): (1) al-’ilm (2) Aqsam al-Ma’lumat (3) Itsbat Wujud Allah (4) Itsbat ats-TsSani (5) Tsani al-Muhdatsat La Yusybihuha (6) Tani al-Alam Wahid (7) Shifat Allah (8) al-‘Alaqat Baina as-Shifat wa adz-Dzat (9) Al-Ism wa al- Musamma (10) Asma Allah (11) Shifat adz-Dzat wa Shifat al-Af’al (12) Jawaz ar-Ru’yat Allah Ta’ala bi al-Abshar (13) Iradah Allah Syamilah (14) al-Istitha’ah wa al-Kasb (15) At-Ta’dil wa at-Tajwir (16) Al-Arzaq (17) Al- Ats’ar (18) Al-Ajal (19) Ad-Din wa al- Iman wa al-Kufr (20) Nazhariyah al- Imamah (21) Shifat al-Imam (22) Ma Yujibu Khalq al-Imam. Dalam kebanyakan faham al-Baqillani sama dengan al-Asy’ari, tapi ia tidak sefaham dalam satu hal yaitu tentang perbuatan manusia. Menurut al- Baqillani manusia mempunyai sumbangan yang efektif dalam mewujudkan perbuatannya, tapi efektifitas kemampuan manusia itu baru dimiliki manusia ketika ia mulai melakukan perbuatan. Dalam ungkapannya ia mengatakan:“ ’An al-Istitha’ah Ma’a al-Fi’l ila al-Fi’li “. Al-Juwaini ( 419-478 H. / 1028-1085 M. ) Nama lengkapnya adalah Abdul Malik b. Abdullah b. Yusuf b. Muhammad b. Abdullah b. Haywiyah al-Juwaini, dan kunyahnya Abu al- Ma’ali. Lahir pada tanggal 18 Muharram 419 H (17 Pebruari 1028 M) dan wafat di Bisytinqan pada tanggal 25 Rabi al-Akhir 478 H (19 Agustus 1058 M). Al-Juwaini hidup dan dibesarkan dalam lingkungan kaum intelektual di Nisabur dimana ayah dan kakeknya adalah tokoh‑tokoh yang ahli dalam agama. Oleh karena itu tidak mustahil kalau sosok al-Juwaini pun tampil sebagai intelektual yang ahli dalam agama. Sewaktu dinasti Buwaihi digulingkan oleh dinasti Saljuk (tahun 445 H/1055 M) terjadi kesukaran‑kesukaran bagi golongan al- Asy’ariyah. Hal ini disebabkan karena perdana menteri kerajaan Saljuk yaitu al-Kunduri yang berpaham Mu’tazilah mempengaruhi Sultan untuk membenci orang‑orang yang mempunyai akidah yang dianggap salah yaitu al-Asy’ariyah hingga tokoh‑tokoh pimpinannya ditangkap. Dalam hal ini al-Juwaini melarikan diri. Ia pergi ke beberapa tempat seperti Baghdad, Hijaz, Makkah serta Madinah. Ia pernah mengajar dan memberi fatwa dengan mazhabnya di Makkah dan Madinah selama empat tahun, hingga ia digelari dengan Imam al-Haramain.* *Bersambung ke part-3

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Email:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar