Ibu Hamil Dalam Prespektif Fiqh

Di posting oleh Kolomonggo pada 08:08 PM, 20-Nov-12 • Di: Kehormatan Perempuan , Pendapat Anda

Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulilah, masih diberi kesempatan bwt ngepost kembali sob smile, sebelumnya ane ngepost tentang kwanitaan, yakni Haid dan Permaslahannya. Kali ane nerusin post / artikel yang berkaitan dengan Kehormatan Wanita

Oke, lansung aja sob, duduk manis and baca ampe selesai yak.... smile



I. Masa Hamil

Minimal masa hamil adalah enam bulan lebih sedikit (waktu bersetubuh dan melahirkan). Masa itu terhitung mulai dari waktu yang mungkin digunakan suami istri bersetubuh setelah akad nikah.

Sedangkan pada umumnya, masa hamil adalah sembilan bulan. dan paling lamanya adalah empat tahun.(Al-Bajuri Juz I halaman 113 dan Al-Bujairimi Khotib Juz I 353)

Sehingga jika ada bayi yang lahir setelah enam bulan setelah pernikahan,maka Nasabnya ikut suami.demikian pula jika lahir sebelum empat tahun dari masa cerai atau wafat. berbeda jika lahir sebelum masa enam bulan dari pernikahan atau setelah empat tahun dari perceraian atau wafat,maka Nasabnya tidak pada suami.
( I`anah at-Tholibin Juz IV hal 49 )

Bulan yang dibuat ukuran minimal, umum dan minimal masa hamil adalah 30 hari, tidak memakai bulan penanggalan. (Bujairimi JuZ I Hal 346)

II. Aborsi (Pengguguran Bayi)

Aborsi yang di lakukan setelah usia kandungan 120 hari (setelah ditiupnya ruh), hukumnya haram. Sedangkan aborsi sebelum kandungan berusia 120 hari, terjadi perbedaan pendapat antara ulama'. Menurut Imam Ibnu Hajar (pendapat yang kuat) hukumnya haram.

III. Penggunaan Alat Kontrasepsi.

Menggunakan alat kontrasepsi, baik berupa pil, obat suntik atau spiral hukumnya adalah sebagai berikut:

a. Apabila penggunaan alat itu bisa menyebabkan tidak bisa hamil selamanya, maka haram.

b. Apabila penggunaan alat kontrasepsi hanya untuk memperpanjang jarak kehamilan dan tidak ada udzur, maka hukumnya makruh.

c. Apabila penggunaan alat itu untuk memperpanjang jarak kehamilan, dan dilatarbelakangi oleh adanya udzur, seperti demi kemaslahatan merawat anak, khawatir terlantarnya anak dan lain, maka hukumnya tidak makruh.
(-Al Jamal Alal Manhaj Juz IV hal 446-447.-Hamisyi Fatawi Al-Qubro Al Fiqhiyyah Libnil Hajar al-musamma bi fatawi Ar-romli Juz IV hal 203)


Akhirulkalammm...... Jangan anu ya....

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

5 tanggapan untuk "Ibu Hamil Dalam Prespektif Fiqh"

ROAD TO HELL JALAN KE NERAKA pada 11:39 AM, 21-Nov-12

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Selamat Siang Brader, Kunjungan Siang nih, semoga silaturahim kita di ridhoi Allah,

Ma'af ane gak ngomentari Artikelnya. Lain kali, Insya Allah, jika umur ane panjang.

Roadtohell.mywapblog.com

achmad imron pada 07:02 PM, 21-Nov-12

ow

achmad imron pada 07:02 PM, 21-Nov-12

ow

Huzam Alwi pada 10:23 AM, 01-Dec-12

Mantab sob, itu aja komentar ana.

Arya Slamet pada 01:08 PM, 19-Dec-12

mak nyus sob smile

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Email:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar